Sejarah Interaksi Internasional

Mei 20, 2008 yulikorsel

AN-NYONG HA-SIM-NI-KA! atau AN-NYONG-HA-SE-YO! ?kata yang selalu terucap saat kita dan orang Korea atau sesama orang Korea bertemu, yang berarti selamat pagi atau malam terlepas dari waktunya. Ucapan selamat yang diikuti sikap tubuh membungkuk sebagai ungkapan penghormatan kepada satu sama lain masih terasa kental di negeri ginseng ini. Tradisi tersebut telah tertanam kuat pada bangsa Korea sepanjang sejarahnya yang tercatat sejak tahun 2333 SM. Hingga kedatangan bangsa Jepang pada tahun 1910, Semenanjung Korea diperintah oleh raja-raja atau dinasti-dinasti secara turun temurun a.l. Shilla dan Chosun.

Ketika bangsa Korea berhasil melepaskan diri dari kolonial Jepang pada 15 Agustus 1945, Semenanjung Korea menjadi terbagi dua secara sistem politik yaitu Korea Selatan dan Korea Utara. Selanjutnya pada tanggal 15 Agustus 1948, Dr. Syngman Rhee, yang terpilih menjadi Presiden Korea Selatan oleh Majelis Nasional, mendeklarasikan Negara Republik Korea. Namun tragis, terjadi Perang Korea tahun 1950-1953 yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerusakan besar. Walaupun perang telah lama usai, Korea Selatan dan Korea Utara masih dalam suasana gencatan senjata melalui armistice treaty tanggal 25 Juli 1953.

Belakangan terdapat upaya untuk menghentikan gencatan senjata dan membuat ikrar perdamaian (peace treaty). Hal ini telah dirintis melalui Inter-Korean Summit yang telah berlangsung pada Juni 2000 di masa Presiden Kim Dae-yung serta bulan Oktober 2007 di masa Presiden Roh Moo-hyun. Namun upaya ini masih perlu terus digiatkan mengingat terkait dengan denuklirisasi Korea Utara yang dibahas pada Six Party Talks, serta pemulihan hubungan Korea Utara dengan AS dan Jepang.

Membangun masyarakat sejahtera

Menarik untuk mengamati perkembangan masyarakat negeri he land of the morning calm?ini. Negara seluas 99.480 km2 atau hanya seperduapuluh luas daratan Indonesia tersebut miskin akan sumber daya alam serta minim lahan pertanian yang subur. Dapat dibayangkan, di waktu lalu masyarakat Korea Selatan hidup penuh keprihatinan dan kerap kali harus berjuang untuk bertahan hidup di kala musim dingin yang menusuk tulang atau musim panas yang terik menyengat. Perang Korea menambah kehancuran seantero negeri baik infrastruktur fisik maupun psikologis masyarakat. Pada awal 1960-an, Republik Korea masih dikelompokkan negara miskin dengan pendapatan per kapita kurang dari USD100.

Namun dalam beberapa dekade kemudian, Korea Selatan telah berhasil membangun diri menjadi masyarakat sejahtera yang sejajar dengan masyarakat di negara-negara industri maju. Pada tahun 1996, Republik Korea bergabung pada kelompok negara-negara maju OECD.

Berpenduduk sekitar 48,8 juta, Republik Korea kini telah menjadi salah satu negara industri maju dengan pendapatan per kapita per tahun lebih US$20 ribu, produk domestik bruto (GDP) sebesar US$967 miliar dengan pertumbuhan rata-rata 4,6 per sen per tahun, dan memiliki cadangan devisa senilai US$525,4 miliar. Republik Korea telah menempatkan posisi sebagai ekonomi ke-11 terbesar dunia.

Republik Korea ikut terhantam krisis ekonomi akibat krisis moneter yang melanda Asia Tenggara pada tahun 1997. Namun ketahanan ekonomi dan sosial politik masyarakat telah membuatnya bangkit kembali. Republik Korea berhasil keluar dari krisis dalam waktu tiga tahun melalui pembenahan struktural dan tindakan nyata melaksanakan tekad penguatan demokratisasi, transparansi, akuntabilitas serta pemberantasan korupsi, kolusi dan manipulasi.

Perjalanan sejarah yang panjang melalui interaksi dengan bangsa-bangsa Mongolia, China, Manchuria, Jepang dan Eropa, akulturasi dengan nilai-nilai Budha, Konhucu, dan Barat, serta kondisi alam dan lingkungan telah membentuk karakter dan kepribadian bangsa Korea yang positif: kepatuhan, disiplin, kerja keras, ketekunan, serta semangat juang untuk menjadi bangsa maju. Dynamic Korea!adalah visi pokok yang melandasi arah perjalanan Negara Republik Korea dengan etos kerja penuh kreativitas dan inovasi.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan manajemen bisnis menjadi andalan negeri ginseng tersebut. Pengembangan industri pertanian melalui gerakan saemaul undong, yang diprakarsai Park Chung-hee di awal 1960-an, telah bergulir menjadi landasan kuat bagi semangat koperasi masyarakat dalam membangun diri menjadi masyarakat industri berbasiskan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi (knowledge-based economy). Industri teknologi informasi Korea Selatan berkembang begitu pesat dan mendapat pengakuan masyarakat internasional.

Seni budaya Korea telah menyebarluas ke berbagai negara dan mengisi layar kaca dan pentas-pentas pertunjukan. Melalui orean Wave? ekspansi kebudayaan Korea ke seluruh dunia yang dilancarkan pemerintah, film-film drama, musik, concert dan tarian asal Korea Selatan telah mampu memukau dan menggaet penggemar luas.

Peluang dan solusi kendala

Indonesia dan Republik Korea adalah dua negara berdaulat yang saling melengkapi dan membutuhkan satu sama lain.Korea Selatan sangat tergantung akan pasokan energi dan bahan baku utama lainnya bagi kelangsungan perputaran roda industri. Hingga kini, Republik Korea telah mengamankan pasokan sejumlah 16,8 miliar barel migas dari 32 negara mencakup sejumlah 121 ladang migas, dan mengimpor lebih US$11,7 miliar untuk memenuhi kebutuhan mineralnya. Indonesia memiliki semua bahan baku ini sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam. Di lain pihak, Indonesia membutuhkan investasi, teknologi dan pasar yang dapat dipenuhi oleh Korea Selatan.

Presiden Lee Myung-bak, yang dilantik tanggal 25 Februari 2008 lalu, telah menetapkan prioritas kebijakan pada diplomasi energi. Hal ini merupakan keniscayaan apabila isi 747?yang dicanangkan ingin tercapai secara optimal. Visi tersebut adalah bahwa Republik Korea memiliki pertumbuhan ekonomi 7 per sen per tahun, pendapatan per kapita US$40 ribu, dan menjadi negara ke-7 terbesar dunia di masa kepemimpinannya. Oleh karena itu, peluang besar ini sangat penting untuk dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.

Investasi Korea Selatan di Indonesia terus meningkat. Menurut data, pada tahun 2007 realisasi FDI Republik Korea di Indonesia tercatat pada urutan ke-5 terbesar dari segi nilai investasi dan urutan pertama dari segi jumlah proyek investasi. Banyak investor Korea Selatan meminta perhatian pada masalah koordinasi di antara instansi pemerintah serta antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, kepastian dan penegakan hukum, masalah perburuhan, perpajakan, pembebasan lahan, dan sarana infrastruktur.

Pada saat kunjungan kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Republik Korea tanggal 23-26 Juli 2007, telah ditandatangani sejumlah nota kesepahaman untuk 12 proyek kerjasama investasi antara swasta/BUMN kedua negara, dan melibatkan komitmen investasi senilai lebih US$8 miliar. Untuk dapat merealisasikannya secara optimal, penting kiranya memperhatikan solusi atas kendala tersebut. Pertemuan Gugus Tugas Bersama Bidang Ekonomi yang telah dimulai akhir April 2007 lalu kiranya perlu diberdayakan maksimal untuk mengidentifikasi dan mengatasi problem yang dihadapi para investor Korea Selatan.

Akses ke pasar Korea Selatan yang semakin besar sejalan dengan menyusutnya hambatan perdagangan dari adanya ASEAN-Korea Free Trade Agreement perlu diikuti dengan peningkatan mutu dan diversifikasi produk yang berdaya saing. Produk hortikultura seperti buah-buahan dan hasil laut termasuk crustaceans dan rumput laut memiliki pangsa pasar yang sangat besar di negeri kimchi ini.

Dalam hal ini, para produsen di Indonesia perlu menyikapi ketentuan karantina, kemasan, dan delivery time yang sering kali menjadi ganjalan pemasaran produk Indonesia di Korea Selatan. Pada tahun 2007 nilai perdagangan kedua negara mendekati US$15 miliar. Indonesia memperoleh surplus sekitar US$3,3 miliar. Dalam empat tahun terakhir terdapat kenaikan volume perdagangan bilateral rata-rata 14,7 per sen setiap tahun.

Tingkat kehidupan masyarakat Korea Selatan yang semakin sejahtera diikuti pula dengan meningkatnya perjalanan warganya ke luar negeri baik untuk kepentingan bisnis, sosial budaya dan wisata. Lebih dari 12 juta orang Korea Selatan bepergian ke luar negeri setiap tahun. Indonesia baru menyerap kurang 5 per sen dari jumlah tersebut.

Masih terbuka lebar peluang untuk menarik wisatawan Korea Selatan ke Indonesia. Orang Korea dikenal gemar bermain golf. Tahun 2007 lebih 1 juta orang Korea Selatan pergi ke luar negeri untuk bermain golf, menghabiskan sekitar US$18 miliar. Demikian pula para pengantin baru senang berbulan madu di kawasan pantai atau pegunungan yang indah dan sejuk serta ke daerah tradisional yang unik dan eksotik. Indonesia memilikinya dan dapat menawarkan paket-paket menarik bagi segmen wisatawan tersebut pada berbagai daerah tujuan wisata.

Peluang lapangan kerja bagi tenaga kerja ahli dan terampil (semi skilled and skilled-labor) di negeri asal olah raga Tae Kwondo tersebut juga cukup menjanjikan. Kita ketahui bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) merupakan penyumbang devisa negara yang signifikan. Kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman mengenai pengiriman TKI ke Korea Selatan pada 9 Oktober 2006. Indonesia memperoleh kuota sekitar 9 ribu orang tenaga kerja setiap tahun.

Melalui skema Employment Permit System (EPS), TKI memperoleh gaji dan hak-hak serupa dengan pekerja warga negara Republik Korea. TKI mengikat kontrak kerja 3 tahun, yang dapat diperpanjang 3 tahun berikutnya jika majikan masih ingin mempekerjakan yang bersangkutan.

Pada saat ini sekitar 26 ribu TKI bekerja di Korea Selatan. Kasus-kasus TKI di Korea Selatan relatif minim. Upaya perlindungan dan bantuan hukum terhadap TKI bermasalah terus digiatkan, dan sejauh ini berjalan lancar dengan adanya hubungan baik dan kerjasama antara KBRI dengan berbagai instansi terkait di Korea Selatan dan di Indonesia. Pelayanan emput bola?ke kantong-kantong TKI dan membuka kantor pelayanan kekonsuleran pada akhir minggu atau libur terus dilakukan, guna menjangkau mereka yang hanya berkesempatan mengurus dokumentasinya pada hari libur.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan diseminasi dan sosialisasi peraturan dan prosedur terkait dengan ketenagakerjaan dan keimigrasian. Demikian pula pelatihan kewirausahaan misalnya, dinilai bermanfaat bagi TKI untuk membekali keterampilan berusaha sekembalinya ke tanah air. Seiring dengan itu, penanganan dalam proses rekrutmen dan pemberangkatan TKI ke negara tujuan perlu terus ditingkatkan secara lebih bijak (prudent) dan profesional. Pencegahan masalah akan lebih baik daripada penanganan masalah yang seharusnya tidak perlu terjadi atau dapat dicegah.

Tekad ke depan

Peluang investasi, perdagangan, pariwisata, dan lapangan kerja Korea Selatan perlu digarap secara efektif.

Landasan formal hubungan dan kerjasama kedua negara yang telah dibangun sejak tahun 1966 terus berkembang dan bertambah erat. Hubungan antar-masyarakat (people-to-people contact) kedua bangsa juga semakin menguat dalam wujud a.l. pertukaran pemuda/pelajar, kerjasama antar-universitas/sekolah, kerjasama media massa, dan terbentuknya Korea-Indonesia Friendship Association (KIFA) pada bulan Juni 2006 atas prakarsa KBRI.

Indonesia dan Republik Korea telah menjalin hubungan kemitraan strategik melalui penandatanganan oint Declaration on Strategic Partnership to Promote Friendship and Cooperation in the 21st Century?oleh kedua kepala negara di Jakarta tanggal 4 Desember 2006, ketika Presiden Roh Moo-hyun berkunjung ke Indonesia. Deklarasi termaksud memuat 32 item kerjasama dalam bidang politik, pertahanan, ekonomi, sosial, budaya, IPTEK, dan hukum.

Komisi Bersama untuk Memajukan Kerjasama Bilateral juga telah dibentuk oleh Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Ban Ki-moon pada tanggal 3 April 2006. Eminent Persons?Group (EPG) juga telah menuangkan rekomendasi konkrit untuk merealisasikan Deklarasi Kemitraan Strategik dalam lima tahun ke depan. Begitu juga berbagai komite kerjasama sektoral dan forum seperti Forum Kehutanan, Forum Energi, dan Forum IT telah ditorehkan untuk mengisi dan menjadi kendaraan yang sistematik bagi perjalanan kerjasama kedua bangsa secara bermartabat, saling menghormati kedaulatan dan saling menguntungkan.

Ke depan, kita tinggal mengisi, menindaklanjuti dan memanfaatkan semua peluang dan karya tersebut seraya mengatasi kendala yang ada. Semoga upaya, tekad dan kerja keras kita berguna untuk turut menyumbang bagi kemajuan pembangunan di tanah air.

Entry Filed under: Sejarah Interaksi Int

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: